Waktu

Waktu. Benda mistis nan gaib. Katanya kita kehilangan waktu detik demi detik. Milidetik demi milidetik. Fuck!

Aku terlalu lama main game Resident Evil 6. Tersadar bahwa waktuku terbuang sia-sia karena mati terus ketika melawan Ustanak sang monster brengsek yang punya megabor di tangannya. Kalau ternyata aku berhasil melawan si Ustanak tadi, yakinlah aku tidak akan berhenti bermain. Oh no. Alhamdulillah aku tersadar bahwa si website butut ini harus segera diupgrade. Biar keren nan seksi. Eksklusif nan eksotis.

Proses tak akan mengkhianati hasil. Begitu katanya. Semoga saja prosesku ini yang seringkali bertemu dengan error-error bedebah, tidak membuatku berhenti. Karena aku yakin bahwa mengkhatamkan website ini lebih mulia daripada membuat khatam Resident Evil 6.

Oleh Anugrah dalam Cerita | 22 January 2018

Posisi

Posisi menentukan sudut pandang. Tentu saja. Hanya skeptis yang tidak setuju dengan itu. Masalahnya ada pada bagaimana menyikapi pandangan itu. Sudut yang telah diambil oleh keputusan-keputusan dalam hidup.

Sudah semestinya bersikap bijak ketika berhadapan dengan sudut pandang. Bijak yang bertumpu pada nilai-nilai yang telah disepakati. Kalaupun tidak mau mengikuti nilai-nilai itu, tinggal terima konsekuensinya. Cukup mudah. Karena, sejatinya, nilai atau norma yang ada itu tidak mengikat. Beda halnya dengan hukum yang berlaku di suatu tempat. Bersifat mengikat, memang, namun lagi-lagi itu adalah pilihan. Mau pasrah diikat atau berontak untuk lepas dari ikatan itu. Lagi-lagi, siaplah untuk terima konsekuensinya. Mudah. Beropini memang mudah.

Aku pernah melihat dari atas, pernah juga dari bawah. Mengintimidasi dan terintimidasi. Jumawa dan dengki. Berandai-andai pun pernah. Bagaimana kalau aku ada di posisi itu? Bagaimana kalau di posisi ini? Aku pernah begini jika di posisi ini. Begitu di posisi itu. Lumrah.

Aku berkesimpulan untuk mencoba menikmati saja sudut pandang yang sedang dipakai, karena itu lebih baik daripada tak bisa melihat dari manapun. Lebih baik. Sungguh.

Oleh Anugrah dalam Opini | 13 January 2018

Menuju Puncak

Circa 2000 awal frase ini jadi norak karena ajang pencarian bakat, aku mulai mengerti kenapa orang-orang kepingin menuju puncak. Ada suatu kepuasan. Mendobrak batas-batas diri. Merengkuh ego dalam balutan darah-darah aroma syuhada.

Harapan.

Adalah biang keladi. Membuat peluh-peluh bercucur. Kurang tidur dan makan. Asap-asap mengepul dari ubun-ubun. Membuat sebagian tidak bahagia, kecewa, iri, dengki. Ah brengsek.

Sementara, ketika mencoba untuk menikmati yang sedang dijalani, ada rasa kurang. Iya, manusia selalu kurang. Terciri dari banyaknya marketing leasing yang berdiri di pengkolan. Menyicil sampai ke harga diri.

Aku rasa memang seharusnya bersyukur. Dengan menyadari potensi-potensi yang telah diberikan Sang Maha Pemberi Potensi. Lalu, memanfaatkanya sambil memposisikan diri sebagai khalifah. Karena memang itu adalah amanah, maka harus total dimanfaatkan.

Keharmonisan bagi universe

Oleh Anugrah dalam Opini | 11 January 2018

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10