Susun

Ibuku seringkali ngomel, "Beresin kamarmu!" Itu berarti aku harus menyusun apa-apa yang ada di kamar pada tempat yang telah disepakati oleh universe dalam kehidupanku. Menjadi rapi memang sangat indah dipandang. Meninggalkan kesan nyaman. Toh alam ini pun rapi dengan segala kerumitannya. Tersadar ketika Dan Brown bercerita akan Golden Ratio dalam Da Vinci Code itu memang aduhai sekali Sang Pencipta dunia dalam menyusun rapi segala hal yang dibuatnya.

Maka, kini aku sepertinya harus merekonstruksi pikiranku bahwa manusia kreatif itu adalah mereka yang tidak tersusun. Damn fuck lah itu teori (atau gosip) yang bilang adalah mereka yang jenius itu acak-acakan seperti rambut dan kumis Einstein. Mungkin memang ada manusia-manusia yang kamarnya acak-acakan dan sukses. Mungkin. Tapi ketika aku pernah dengar Pak Ustad ceramah bahwa Allah suka yang indah berarti kerapihan adalah mutlak adanya. Karena sungguh aku tak menemukan keindahan dalam keacak-adutan. Ditambah lagi, karena aku sedikit ingin akademis, aku mencari referensi bacaan yang membuktikan bahwa kerapihan adalah salah satu modal menuju sukses. Kutemukan Rando Kim dalam Amor Fati bilang bahwa salah satu kunci sukses adalah: rapikan sepatumu.

Oleh Anugrah dalam Opini | 04 February 2018

Nafsu

Sesuatu yang berlebihan tentulah tidak baik. Segalanya akan berbalik menuju arah berlawanan dari yang diinginkan. Apalagi nafsu. Manusia punya nafsu. Dan aku baru benar-benar mengerti kenapa itu harus dikontrol dengan baik. Dan, itu tidak mudah. Nafsu selalu memberikan kebahagiaan dengan cepat. Dopamine rush. Setahuku, kebahagiaan yang diraih oleh nafsu semata akan cepat pula hilangya. Mabuk minuman dan masturbasi, misalnya.

Sesuatu yang kekal melulu melibatkan perjuangan. Syarat peluh dan derita. Kebahagiaan yang hakiki. Yang aku yakin itu bukan harta. Surga. Konsep jalan menuju surga di agama apapun dibuat tidak mudah. Nafsu adalah salah satu musuh yang harus ditaklukan. Dalam Islam, ada shaum. Pengebirian hawa nafsu. Penghancuran ego-ego bajingan yang tak terkendali.

Terkadang, aku ingin punya saklar yang terhubung dengan kabel-kabel nafsuku. Biar aku bisa dengan mudah mematikan dan menghidupkannya. Semauku. Tentu saja itu gak akan pernah terjadi. Instan bukanlah jalan menuju kebahagiaan. Percayalah, indomie itu rasanya gitu-gitu aja kan?

Oleh Anugrah dalam Opini | 25 January 2018

Waktu

Waktu. Benda mistis nan gaib. Katanya kita kehilangan waktu detik demi detik. Milidetik demi milidetik. Fuck!

Aku terlalu lama main game Resident Evil 6. Tersadar bahwa waktuku terbuang sia-sia karena mati terus ketika melawan Ustanak sang monster brengsek yang punya megabor di tangannya. Kalau ternyata aku berhasil melawan si Ustanak tadi, yakinlah aku tidak akan berhenti bermain. Oh no. Alhamdulillah aku tersadar bahwa si website butut ini harus segera diupgrade. Biar keren nan seksi. Eksklusif nan eksotis.

Proses tak akan mengkhianati hasil. Begitu katanya. Semoga saja prosesku ini yang seringkali bertemu dengan error-error bedebah, tidak membuatku berhenti. Karena aku yakin bahwa mengkhatamkan website ini lebih mulia daripada membuat khatam Resident Evil 6.

Oleh Anugrah dalam Cerita | 22 January 2018

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10