Podcast dekadensiotak

Aku akhirnya bikin podcast. Sebenernya males sih nulis deskripsi podcastnya karena aku udah nulis itu di halaman about untuk web podcast itu.

Pokoknya itu podcast ditujukan untuk kawan-kawan yang baru belajar koding kayak saya.

Jadi sila dikunjungi Podcast dekadensiotak. Semoga bermanfaat :)

Oleh Anugrah dalam Cerita | 30 October 2018

Belajar programming (lagi)?

"I'm usually very negative. I often think I won't be able to do anything. The other people are very positive. I think that in 100 days, I will definitely become a more positive person" - Kim Minju tentang surat untuk 100 hari kedepan (Produce 48 episode 12)

***

Biarlah aku ngalay sedikit. Walau sebenernya ga alay kata aku mah. Ah anjir. Kenapa aku pengen nulis ini ya? Ini rada-rada geuleuh sih curhat-curhat gini teh. Tapi bae lah ya. Bebasin aja. Website-website gue, ya ga?

Hidupku ini memang penuh dengan keragu-raguan. Seperti nilai C dalam mata kuliah. Lulus tapi sangat tidak membanggakan dan gak terlalu malu-maluin kayak nilai D.

Sejujurnya, hidupku selalu mulus. Alhamdulillah. Tak ada masalah berarti. Aku selalu bisa mengatasinya. Dengan kata lain, aku selalu bisa masuk di zona nyamanku. Walau zona nyamanku itu tiba-tiba rusak, aku bisa dengan mudah mendapat zona nyaman yang lain. No challenge at all.

Tahun-tahun belakangan ini, aku mulai sadar bahwa ini hidup gak boleh gini-gini aja. Aku bukan orang jahat tidak juga super baik. Bukan orang pintar, dan pastinya aku tidak bodoh. Aku yakin itu. Aku hanya gak punya sesuatu yang benar-benar diriku. Yang benar-benar aku kuasai. Semuanya datar-datar.

Ga masalah sih sebenernya. Gaji aku cukup. Makan tinggal makan. Tidur tinggal tidur. Maen tinggal maen. Sampai pada akhirnya aku masuk dalam dunia kehampaan. Limbo. Anjissss, edan.

Jadi kayaknya aku udah ada di titik teratas dalam lingkup zona nyamanku.

***

Kata orang, zona nyaman itu harus ditinggalkan biar mencapai kesuksesan. Ga juga sih kata aku mah. Kalau memang tujuannya adalah hidup nyaman, ya udah jalanin aja. Asal jangan ngeluh. Nah, kalau aku mah sudah mulai ada getaran-getaran di dada yang ngajak gerak. Ingin mengusik rasa bosan. Udah mulai muncul benih-benih "ngeluh". Begitulah kira-kira.

Singkat cerita, aku mulai melakukan banyak hal. Meniru banyak hal. Banyak baca. Banyak nonton. Nyari referensi lah ya. Terdengar sedih sih ketika aku di umur 28 tahun ini masih nyari-nyari jati diri kayak anak ABG yang baru tahu onani. Tapi kalau aku diam dan gak ngelakuin apa-apa, ya ga akan menghasilkan apa-apa juga. Takutnya, aku masuk dalam jurang penyesalan.

"Lebih baik mati terlupakan, daripada dikenang karena menyerah"

Karena aku belum kepingin mati, maka opsinya adalah: jangan menyerah. Anjis kayak judul lagu demasip.

Eh ngomong-ngomong, kutipan itu aku ambil dari lagunya si Tarjo a.k.a Senartogok yang judulnya "Melukis Langit Bagai Imaji". Sebuah lagu tema untuk sebuah yayasan non-profit bagi anak jalanan di kota Bandung. Aku pernah sedikit terlibat di dunia itu. Dan romantismenya masih terasa sampai sekarang.

***

Dalam proses pencarian jati diri itu aku banyak bikin hal-hal remeh temeh yang akhirnya kupasang juga link-nya di website ini. Dari mulai kolase, zine, puisi, sampai tulisan ga jelas di wordpress.

Asalnya sih aku pengen nulis, gara-gara sempet kuliah sastra. Jadi penulis lah ya. Tapi ternyata susah euy. Nah itu jeleknya aku, gampang nyerah. Mending balik lagi ke zona nyaman. Enak. Makan oke, tidur oke, rokok oke. Selesai.

Tapi emang dari nulis, aku jadi terjun (lagi) ke dunia pemrograman.

Kan dulu aku rajin pisan nulis blog. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk beli domain untuk gaya-gayaan. Beruntunglah aku punya teman yang namanya Fajar, dia mah programmer jago. Dia tuh yang ngajarin aku beli domain. Kalau dipikir-pikir lucu ya, programmer ngajarin cara beli domain, bukan ngajarin koding.

Akhirnya aku beli domain dengan nama manganugrah.com. Domain itu gak aku isi apa-apa selama setahun. Cuman aku kasih tulisan "Under Construction" dalam file index.html. Itu karena aku gak tau gimana caranya. Aku dan Fajar juga makin jarang ketemu. Sibuk masing-masing.

Dua tahun kemudian, aku tiba-tiba pengen belajar pemrograman. Ini serius. Tiba-tiba banget. Entah karena apa, aku rindu masa-masa aku larut dalam nulis kode-kode HTML dan ngutak-ngatik Dreamweaver.

Kapan masa-masa itu?

Itu adalah ketika aku sekolah di SMKN 1 Cimahi, jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. Ya, aku pernah belajar untuk jadi programmer. Sayangnya, aku bukan murid yang baik. Di tahun pertama aku cukup serius untuk belajar pemrograman dasar. Dari mulai Algoritma, Basis Data, Digital, dan yang paling kusuka adalah HTML.

Waktu itu aku ngerasa HTML mengenalkan diriku pada dunia baru. Dunia web. Dan mulai paham bahwa situs-situs yang suka kukunjungi lewat PC warnet itu ternyata bisa dibuat dengan sekumpulan-sekumpulan tag HTML.

Apalagi ketika di tahun kedua ada mata pelajaran Macromedia Dreamweaver (waktu itu masih punya Macromedia), wah aku ngerasa punya alat yang powerfull untuk menuangkan imajinasiku pada layar komputer.

Sayangnya, di tahun kedua itu juga aku mulai masuk fase nakal anak SMK. Aku pergi ke sekolah hanya ingin bermain bersama teman-teman. Bukan belajar. Maka, mata pelajaran yang penting banget malah aku gak ngerti sama sekali karena aku gak peduli apa yang guru omongin. Mata pelajaran itu adalah PHP - yang merupakan bahasa pemrograman beneran, bukan seperti HTML yang hanya bahasa Markup. Aku hanya bisa memasukan kode PHP dan MySQL melalui Dreamweaver, alias instan.

Pada saat itu juga, bir bintang terlihat lebih menarik daripada PC. PC hanya dipakai main Football Manager doang. Walhasil aku lulus dengan skill yang sangat tidak bisa dibanggakan.

Tapi..

Semangatku untuk terus belajar IT masih ada. Oiya aku masuk jurusan RPL waktu SMK pun karena aku tertarik dengan komputer. Aku waktu itu milih jurusan Elektronika Industri dan Komputer, karena ada kata "Komputer"nya. Saya gak peduli sama elektronikanya. Eh ternyata takdir menuntun saya untuk masuk RPL yang ternyata lebih "komputer".

Semangat milih jurusan untuk masuk kuliah pun gitu, dengan sedikit modifikasi. Aku cinta komputer dan aku pernah sekolah RPL. Maka aku memutuskan untuk memilih jurusan Ilmu Komputer Universitas Pendidikan Indonesia sebagai pilihan pertama di SNMPTN.

Lagi-lagi takdir berkata lain, aku malah masuk Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris UPI yang merupakan pilihan kedua. Waktu SNMPTN aku memilih IPC jadi aku bisa ngambil dua jurusan itu.

Akhirnya aku kuliah angin-anginan. Tahun pertama kuliah tidak sesemangat seperti tahun pertamaku di RPL. Lalu aku menyibukkan diri di yayasan sosial dan juga bikin band anarcho-punk yang diberi nama Masturbasi Distorsi. Setelah lulus aku malah kerja jadi tukang ledeng. Sebelumnya pernah kerja sebagai co-supervisor di perusahaan investigasi dan konsultasi tanah. Sangat tidak nyambung sodara-sodara.

***

Nah, di tahun 2017. Aku kebetulan reunian kecil-kecilan teman-teman RPL di Gelap Nyawang selepas ashar, yang dihadiri hanya empat orang: aku, Rendra yang bekerja di perusahaan multinasional, Cepy sang developer handal, serta Andika yang lagi kuliah S2 di ITB. Aku dan Rendra sudah jauh dengan dunia IT karena kerjaan kami yang kurang "nge-IT". Beda halnya dengan Cepy dan Andika. Mereka berdua masih berkutat dengan algoritma dan kawan-kawannya.

Jujur saja, aku merasa bodoh pada waktu itu ketika mendengar Cepy dan Andika ngebahas IoT (Internet of Things). Apa itu IoT?

Cepy sampai bilang gini: "Kamu selama ini hidup di gua mana?"

Anjir, setelah itu aku tiba-tiba ingin belajar IT lagi. Pengen ngoding.

Berarti ga tiba-tiba juga ya? hehe.

Aku gak terima aja kalau ternyata selama ini aku hidup di masa lalu. Analog parah. Dunia sudah sangat berkembang dan berlari sangat cepat meninggalkan aku di belakang.

Maka, aku mulai buka Google. Nyari tutorial programming dasar. kutemukan duniailkom.com dan kubaca fundamental HTML dan CSS. Kubuat website statis yang sangat sederhana namun sudah ada isinya. Tidak sekedar "Under Construction".

Aku pun mulai ingin bikin website dinamis. Kucari lagi sumber tutorial yang asik. Ternyata dari semua sumber yang kudapat, aku menemukan sekolahkoding.com.

Apaan nih sekolah koding? Lucu nih. Konsepnya sekolah. Berarti ada mata pelajarannya, ada silabusnya. Eh ternyata bener. Sekolah Koding nuntun murid-muridnya untuk belajar dari mana ke mana.

Biar belajarku makin serius, aku memutuskan untuk membeli domain. Maka kubelilah anugrah.club yang waktu itu cuman 60 rebu untuk satu tahun. Murah! Cocok.

Aku tahu ada domain .club juga dari Sekolah Koding yang waktu itu baru memberhentikan podcastnya dan bikin podcast baru di tehataukopi.club.

Wah pokoknya saya berterimakasih banyak sama Sekolah Koding.

***

Kini, aku mencoba untuk konsisten ngoding tiap hari. Walaupun porsi ngodingnya sedikit, tapi lumayanlah. Jujur saja, aku belum sanggup untuk ngoding banyak-banyak. Selain karena aku harus kerja full-time, kadang masih suka pengen nonton korea, kadang pengen leyeh-leyeh. Ah banyak lah alasan mah. Untuk sekarang, ngoding bagiku adalah sarana untuk menimbulkan perasaan berguna sebagai manusia.

Dengan ngoding, aku merasa bisa menjadi "pencipta" walau hanya dengan program sederhana nan cetek. Tapi tidak sesederhana nyetak Hello World juga sih.

Ketika kode program yang kutulis itu berjalan baik, aku sungguh senang. Kesenangannya langsung terasa. Tidak seperti saat aku ngeblog yang kesenangannya dapat dirasakan ketika ada orang yang membaca atau berkomentar. Ngoding mah ga ada orang yang tau pun, asalkan programmnya berhasil berjalan, eror-erornya berhasil dihilangkan dan konsepnya sudah lumayan sesuai dengan draft yang dibuat sebelumnya, aku bisa merasa senang. Bahkan aku bisa joget-joget sendiri di depan laptop saking senengnya. Sukur-sukur kalau outputnya bisa juga berguna bagi orang lain.

Aku hanya berharap bisa terus istiqomah sih. Itu aja.

Oleh Anugrah dalam Cerita | 07 October 2018

"Kontra" Produktif | Selamat datang Pustaka

Aku bikin page baru demi balajar Bootstrap 4. Page itu adalah Pustaka, tempat aku menyimpan zine yang pernah kubuat. Iye-iye, aku masih inget kok gimana aku ingin memutakhirkan website ini. Tapi da ternyata ngubek di satu tempat teh bikin aku bosen euy.

Santey lah ya. Yang penting mah kan sekarang aku konsisten tiap hari ngoding. Aku lagi belajar konsisten. Pengen tau aja hasilnya gimana kalau tiap hari aku ngoding. Tiap hari pikiranku tertaut sama programming.

Tetep produktif. Itu sih yang aku ingin pisan mah. Karena sepertinya aku sepaham dengan Senartogok yang lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas.

Bikin aja yang banyak dulu. Kualitas mah nyusul. Lama-lama juga bagus.

Oleh Anugrah dalam Cerita | 23 September 2018

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10