24 August 2020 • 1 min read • Opini

Good old days. Kalimat itu teh selalu manis. Aku juga ngerasain hal itu. Masa lalu terasa indah karena masa sekarang gak bener-bener kita nikmatin. Ya. Kita. Aku dan kamu.


Sedangkan masa depan terlalu sulit untuk dibayangkan.


Mungkin kurang bersyukur. Mungkin terlalu banyak ngeluh.


Aku fikir mengeluh itu perlu, asal gak kebanyakan. Toh kita ini manusia, bukan robot.


Sekarang aku lagi dengerin Linkin Park Live in Texas yang tiba-tiba ngebawa memoriku mundur jauh ke masa SMP. Masa-masa yang kurang bagus. Aku tidak suka masa SMP. Good-old-days-ku itu masa STM. Masa kuliah kuanggap aku sedang mabuk dan tak ingat apa yang terjadi.


Tadi sore, Danny mengingatkanku bahwa aku sedang hidup di masa sekarang. Dia akan menikah. Aku senang mendengarnya, yang sekaligus menyadarkanku bahwa aku pun sepertinya akan mengalami yang namanya pernikahan. Berkeluarga. Damn.


Kadang hidup ini dimataku itu ngeblur. Apa dan siapa. Kemana dan dimana. Kadang-kadang semrawut gak karuan.


Dinamika manusia, katanya.


Yang pasti adalah sakit gigi yang bajingan. Yang berlubang bangsat. Ingin dicabut tapi sayang. Ya sayang giginya, ya sayang duitnya. Bangsat emang. Asam mefenamat dulu lah.


Jika hidup ini sudah digariskan, aku hanya perlu mengikuti alur garisnya. Masalahnya, garis itu sulit sekali terlihat. Butuh penerang. Penerang. An Nuur.



Kalau kamu suka tulisan saya, boleh kok traktir saya kopi. Tinggal klik di sini.