24 July 2020 • 2 min read • Cerita

Lama-lama gue beneran jadi Batman. Gue inget di awal tahun gue berusaha untuk lebih aktif di siang hari daripada malam hari. Ternyata usaha gue itu gagal. Gue selalu lebih aktif di malam hari. Otak gue selalu muter di malam hari.


Bada maghrib adalah garis start. Biasanya gue langsung set laptop gue di meja, colok second monitor, lalu buka kode editor untuk ngoding atau notepad untuk nulis.


Gue kira ini karena siang hari gue itu gak asoy. Semakin gak asoy siang hari gue, semakin muter otak gue di malam harinya.


Ya mungkin gue ini jiwanya itu emang Batman. Siang hari gue nyari duit kayak Bruce Wayne, malem hari gue berenergi kayak Batman.


Ini gak sehat sih.


Mungkin gue suka malam karena sepi. Hening. Gue emang orang yang gak suka keramaian. Gue seringkali melipir sendirian ketika di satu tempat atau ruangan mulai banyak orang. Gue selalu merasa lebih produktif kalau sendirian. Hmm, mungkin produktifitas gue masih bisa gue jaga sampai ditemani oleh dua orang teman. Ditemani lebih dari dua orang, gue mulai "loyo".


Gue juga gak tau apakah ke-introvert-an gue itu bagus atau enggak. Kelainan atau enggak. Tapi bukan berarti gue anti-sosial juga. Enggak. Gue masih bisa bersosialisasi kok, kalau emang itu harus dan penting.


Gue emang mulai males ngelakuin hal yang menurut gue gak berguna secara berjamaah. Tapi kalau gue ngelakuin hal gak guna sendirian, itu masih bisa gue tolerir.


Gue hanya ingin lebih produktif aja sih kalau lagi sendirian teh. Kalau lagi banyakan, otak gue suka mandek. Lain cerita kalau banyakan tapi melakukan sesuatu yang produktif. Itu gue bakalan semangat.


Jadi, kalau lo mau gue kerja dengan benar dan menghasilkan sesuatu yang keren, leave me alone, dude.


Atau,


Temani gue dengan ide-idemu yang bisa bikin gue semangat.