Menuju Puncak

Circa 2000 awal frase ini jadi norak karena ajang pencarian bakat, aku mulai mengerti kenapa orang-orang kepingin menuju puncak. Ada suatu kepuasan. Mendobrak batas-batas diri. Merengkuh ego dalam balutan darah-darah aroma syuhada.

Harapan.

Adalah biang keladi. Membuat peluh-peluh bercucur. Kurang tidur dan makan. Asap-asap mengepul dari ubun-ubun. Membuat sebagian tidak bahagia, kecewa, iri, dengki. Ah brengsek.

Sementara, ketika mencoba untuk menikmati yang sedang dijalani, ada rasa kurang. Iya, manusia selalu kurang. Terciri dari banyaknya marketing leasing yang berdiri di pengkolan. Menyicil sampai ke harga diri.

Aku rasa memang seharusnya bersyukur. Dengan menyadari potensi-potensi yang telah diberikan Sang Maha Pemberi Potensi. Lalu, memanfaatkanya sambil memposisikan diri sebagai khalifah. Karena memang itu adalah amanah, maka harus total dimanfaatkan.

Keharmonisan bagi universe

Oleh Anugrah dalam Opini | 11 January 2018

Tulis komentarmu...

Nama
E-mail
Website
Komentar