30 October 2019 • 2 min read • Opini

Jagal Sangkakala dengan Mantra Pandawa bergema di kamar. Aku berteman kopi dua ribuan dengan rokok dua belas ribu sebungkus. Menatap layar yang berhias editor kode yang diberi nama vscode. Tag HTML berhamburan berhias kelas bootstrap. Sedangkan si kode PHP malu-malu menyembul sedikit-sedikit. Buku catatanku penuh coretan lemah sketsa struktur. What am I doing man? A project indeed. My selfish project. My Project Manager's selfish project. Our project. My utopian project.


Utopia? Tentu! Bagi orang bodoh sepertiku, yang gini-gini itu utopia (nah! dionysian maybe). Status quo terlalu hangat, keluar dari zona nyaman kayak gimana maksud lu?


Man, menurutku. Gak ada yang salah dengan zona nyaman. Sebut aku si pecundang. Biar bagaimanapun manusia (baca: aing) ini selalu mencari kenyamanan. Sebut saja: mapan, aman, bahagia. That's all. Jadi kenapa harus keluar kalau yang dicari itu-itu juga?


Atau mungkin, sebenernya kita (lo doang kali ah) itu gak tau nyaman itu kayak gimana. Gak ngerti aja. Mungkin, kita (lo doang kali bangsat), itu terlalu laper. Serakah aja gitu. Gak pernah puas (klise anjing). Makanya manusia terus nyari nyaman yang lebih. Padahal mah, kalau maneh tidak menaikkan level kenyamanan maneh, hidup maneh teh sebenernya mah okey-okey aja, hei wahai para kelas menengah gak tau diri!


Informasi, mungkin itu jadi salah satu sebabnya. Banjir informasi yang bajingan ini bikin kita kelelep dalam standar kenyamanan yang utopia. Feed instagram penuh dengan liburan, bayi yang lucu-lucu, iphone sebelas, mobil olahraga. Man, we have to work hard like a fucking psycho horse. Is that really necessary?


Seperlu itukah kita dapet nilai sempurna dari orang lain? Emang orang lain itu siapa? Guru? Big No! Menurutku mereka sama-sama aja deh, kuda juga. Ga deng. Gue kuda, mereka keledai.


Apakah naek level ini penting? Apakah hidup ini permainan kayak super mario bros? atau kita semua ini memang sadomasochist?


Kayaknya kita ini sadomasokis deh. Atau ah, mungkin ini mah aing aja yang males sih.