14 March 2019 • 2 min read • Opini

Menulis. Suatu kegiatan yang mungkin tak akan pernah kutinggalkan. Mungkin aku tak akan bisa untuk terlalu mendekapnya. Hanya sesekali. Namun selalu kucoba mendekapnya dengan hangat. I dont know man. Ini adalah kebiasaan yang membingungkan. Aku mencintai menulis. Aku hanya gak tau gimana cara mengungkapkannya. Seperti ABG yang jatuh cinta untuk pertama kali. Aku selalu gugup ketika ingin menulis dengan bagus.


Mungkin aku harus menghilangkan kata sifat dalam kata kerja menulis. Bagus - jelek. Panjang - pendek. Ah sialan. Apabila menulis deretan kode pada Sublime Text bisa masuk dalam kategori menulis, maka aku menulis setiap hari. Tapi tentu saja itu terlalu dipaksakan. Toh, siapa yang mau baca baris-baris kode kecuali programmer. Itu pun pastinya programmer pemula yang mau baca kode-kodeku karena yakinlah bahwa kode-kodeku ini adalah kacangan bagi para profesional. Ah persetan!


Hustle.


What the fuck is hustle? Persetan lah persetan. Aku percaya bahwa setiap orang sedang berperang dengan jalannya masing-masing. Memperjuangkan sesuatu yang tidak bisa diukur bagus-enggaknya sama orang lain. Aku yakin setiap orang selalu bertemu dengan persimpangan jalannya di setiap waktu. Setiap detik. Setiap milidetik.


Jadi, aku meyakini bahwa keegoisan adalah hal yang penting. Supaya tidak mengganggu keegoisan orang lain dengan segala drama persaudaraan yang berlebihan.


Santaykeun weh bray. Gitu kali ya. Da hidup mah cuma senda gurau belaka (sampai bertemu pada satu titik brengsek yang akhirnya kamu berpikir ulang bahwa dunia itu ternyata jauh jauh jauh jauh lebih serius daripada hahahihi, lebih real daripada panggung sandiwara. (Hai Shakespeare, Hai Ahmad Albar)).


Kamu pernah berbicara ketika mabuk? Atau pernah mendengar ocehan temanmu yang lagi mabuk? Itu seperti tulisan ini. Mirip ketika jamu intisari mengambil alih sebagian besar kesadaranmu.