24 April 2019 • 32 sec read • Cerita

Marie Kondo emang lumayan bikin kamar saya jadi rapi. Tentu saja aku bukan memakai jasanya secara langsung. Gak punya cukup duit kalau untuk itu mah. Aku hanya beli bukunya aja.


Walaupun sebenernya mah bukunya tidak begitu rame. Cenderung teknikal. Tapi aku tetep penasaran sama semua isinya. Jadi kuputuskan untuk menamatkannya. Sekarang mah baru jalan setengah.


Iya sih, semua barang yang gak aku perluin aku buang-buangin kecuali buku. Aku terlalu sayang sama buku-bukuku walaupun beberapa dari mereka ada yang gak aku baca. Dibuang? Nanti dong anying. Belinya mahal itu teh kata aku mah.


Lagipula, aku pengen punya perpustakaan. Kan gak seru kalau perpustakaan bukunya dikit.


17 April 2019 • 2 min read • Cerita

Aku sangat menikmati pembuatan website ini. Memang dasarnya aku adalah seorang narsistik. Seharusnya aku jadi rapper dengan segala braggadocio-nya. Sayang, aku selalu demam panggung. Tapi ke-aku-an diriku sungguh besar. Ego.


Aku tak pernah ragu menulis baris-baris kode untuk website personal ini. Tapi selalu ada pertanyaan ketika kuputuskan selesai. Ketika esensi dari seorang programmer adalah menyelesaikan masalah yang ada di muka bumi ini, aku malah seringkali tidak memecahkan masalah apapun. Mungkin aku terlalu banyak bergumul dengan diriku sendiri. Dunia di luar sana terlalu dingin.


Atau, mungkin terlalu banyak masalah yang ada dalam diriku sehingga aku memutuskan untuk memperbaiki diriku dulu sebelum memperbaiki yang lain. Jika aku adalah alat, maka aku ini rusak. Belum bisa digunakan dengan baik. Maka, aku banyak menulis kode untuk diriku sendiri.


Dunia luar, tentu aku berinteraksi dengannya. Aku belum mau disebut hantu. Aku masih manusia yang membutuhkan manusia lainnya. Maka aku berusaha membuat sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaanku saat ini. Aku mencoba menawarkan sesuatu pada dunia dengan segala bumbu utopia yang keterlaluan.


Maka, aku belajar Git. Sebuah langkah pertama kulakukan. Aku berkontribusi pada dunia koding-kodingan ini. Semudah itu. Semudah terhubung dengan Github. Mudah saja. Dunia internet nan maya yang memang terlalu maya untuk diriku.


Tapi tetap saja, aku melakukan semuanya itu untuk diriku. Aku kembali kepada aku. Aku memang egois. Percayalah.


Harusnya aku lebih berfilosofi tentang kode-kode yang kutulis setiap hari. Aku tidak yakin apakah aku bisa. Membaca Nietzsche atau Sartre atau malah Kafka saja aku kebingungan minta ampun. Ya, mungkin aku harus memulai untuk membaca diriku sendiri degan lebih khusyuk.


Aku selalu tertarik pada aku. Maka aku berbicara aku di podcast. Aku menulis aku di blog. Aku memprogram aku. Kulakukan berulang-ulang, berkala. Loop. Berputar. Transendental.


Aku tahu aku berputar. Dan kupastikan putaranku makin sempurna, dengan sudut tak hingga.


09 April 2019 • 54 sec read • Cerita

Linkin Park tiba-tiba kurindukan. Masa-masa Hybrid Theory dan Meteora yang aduhai. Suara vokal mendiang Chester yang menggugah semangat remaja awal. Waktu itu aku masih SD lalu masuk SMP ketika Linkin Park kunobatkan sebagai band paling keren sedunia.


Sementara suara vokal Chester bersahutan dengan celoteh Mike, aku mencoba memahami tag meta dalam HTML yang ternyata cukup berpengaruh. Besar malah. Betapa bodohnya aku ketika kemarin aku kaget melihat hasil kodinganku kok tampilannya begitu buruk ketika kuunggah di hostingan yang aku masih setia membayarnya di awal tahun ini.


Ternyata meta.


Waduh, HTML aja aku masih lieur begini, bangsat! Gimana mau nyoba Codeigniter?


Untung saja aku mendapat angin segar dari lagu Breaking the Habits. Entahlah lagu itu menceritakan tentang apa. Aku tak peduli. Yang pasti aku jadi teringat akan keinginanku mengubah kebiasaan burukku yang banyak itu menjadi yang baik-baik saja.


Habit.


James Clear berbicara panjang lebar pada bukunya yang telah selesai kubaca. Rando Kim menyarankanku untuk merapikan sepatuku di Amor Fati. Jerry Seinfeld memaksaku untuk tidak berhenti. Dan, ibuku ingin aku menikah.


Aku..


Aku mah ingin segera menjadi Tony Stark. (gak mungkin lah goblok!)