Carpe Diem

Fokus untuk hari ini saja. Hari adalah waktu yang mudah diukur. Gelap jadi terang lalu gelap lagi. Terbit dan tenggelam. Dan disisipi lima waktu jeda. Resolusiku tak pernah berhasil jika untuk satu tahun. Tapi jika satu hari, itu mudah. Karena hanya butuh fokus sebelum langit jadi gelap dan dingin.

Oleh Anugrah dalam Opini | 13 May 2018

Kapan-kapan

Kapan-kapan aku akan membuat website butut ini jadi lebih indah. Kapan-kapan. Ketika semuanya telah selesai. Walau semua pasti gak akan selesai-selesai. Aku harus meluangkan waktu. Tapi haroream tea gening. Tapi kalem weh, da semua indah pada waktunya.

Kapan waktunya itu? Kapan-kapan

Oleh Anugrah dalam Cerita | 03 May 2018

Membaca Aroma Karsa - hal. 256

Sejauh ini menarik. Aku tahu Dee itu brilian. Namun, eksplorasinya di Aroma Karsa sungguh edan dibanding novel-novel sebelumnya. Rasionalitas dibangun apik dan rapi. Twist kecil mulai dimunculkan. Aku rasa film Perfume itu jadi tidak ada apa-apanya.

Juga, Eka Kurniawan sepertinya harus berguru pada Dee jika ingin menulis seks bertema fetish. Mencengankan sekali ketika membaca karakter Suma yang elegan itu bergairah dengan aroma bantal yang ditiduri Jati. Seketika, cerita menawarkan kesan liar yang singkat tapi powerfull. Ini menarik, ditambah lagi dengan kehadiran kejutan bahwa bau manusia mirip dengan bau samudra. Epic! Tabik!

Oleh Anugrah dalam Opini | 15 April 2018

Dari Melawan Arus dan Aku (Pernah) Punk, Kini Aroma Karsa

Dua buku bernafas Islami telah kubaca. Aku ingin tobat. Mungkin itu yah yang tersirat dari bacaanku itu. Mulai penasaran sama agama. Dari dulu sebenernya mah. Untungnya aku nemu dua buku itu, membahas Islam dengan rasa rock n' roll. Apalagi dulu aku juga suka punk-punk-an (sekarang malah kpop-kpop-an.. sialan). Alhamdulillah, membuatku bergulat dengan dingin shubuh - mencoba menjatuhkan wajah ke tempat terendah. Meninggalkan mahkota dunia. Terkadang dingin shubuh menang. Berkali-kali malah. Tenang.. kata kawanku, semua ada prosesnya.

Kini aku sedang menggasak Aroma Karsa. Dee memang selalu memberi kejutan walau ide tentang penciuman pernah kunikmati pada film Perfume: The Story of a Murderer. Bukunya tebal yang berarti aku harus menyisihkan tenaga ekstra. Seharusnya, jika aku rela menyisihkan waktu untuk baca Aroma Karsa yang tebal, maka semestinya aku bisa juga untuk menyisihkan baca Al-Quran. Sudahlah, Al-Quran memang buku super spesial.

Oleh Anugrah dalam Cerita | 09 April 2018

Ada?

Ada gak sih orang-orang kiri di era moderen ini yang pengaruhnya sebesar Elon Musk, Bill Gates, atau Steve Jobs. Ada gak sih? Duh, saya kira saya kurang berwawasan nih.

Atau apa emang kiri-kiran semacam Marxisme Leninisme dan isme-isme semacamnya itu memang benar-benar usang? dan dari dulu memang cuman menawarkan utopia belaka?

Oleh Anugrah dalam Opini | 11 March 2018

Ziarah

Kubilang bahwa Iwan Simatupang adalah manusia gila. Gila dalam artian yang menarik. Soalnya, kegilaan Iwan dalam novelnya yang berjudul "Ziarah" bisa bikin siapa aja yang baca geleng-geleng kepala.

Aku ibaratkan "Ziarah" itu begini: perpaduan antara keabsurdan Godotnya Samuel Becket dengan betapa bajingannya karya-karya Eka Kurniawan yang dikocok sembarang dengan batang pengaduk ilmu filsafat Nietzschean.

So far, ini adalah novel terbaik yang saya baca di awal tahun 2018.

Oleh Anugrah dalam Opini | 07 March 2018

Hikmah

Aku baru saja baca blog Subchaos Zine. Di salah satu postnya sang admin bilang bahwa manusia itu peka dengan hikmah. Ini menjadi sebuah setitik mata air untukku. Bahwa ternyata apa yang sedang kuperjuangkan ini memang ada yang mengamini hikmah di dalamnya.

Iya, aku memang senang mencari dan menerka hikmah apa yang telah terjadi pada diriku dari hari ke hari. Apalagi ketika mengingat cerita dari Francois Lelord bahwa bahagia itu dengan menuliskan apa-apa yang bikin bahagia. Tentu saja, hikmah itu selalu membahagiakan.

Oleh Anugrah dalam Cerita | 04 March 2018

Rancang Agung

Mungkin Hawking bisa bilang penciptaan dunia ini bisa dilakukan tanpa melibatkan tuhan. Aku tak bisa menerimanya. Sehebat apapun hukum yang ada pasti ada yang membuat itu terjadi. Yang memulai. Bahkan ketiadaan itu sendiri pun ada yang membuatnya jadi seperti demikian.

Aku masih butuh Tuhan. Dan akan selalu begitu.

Oleh Anugrah dalam Opini | 21 February 2018

Susun

Ibuku seringkali ngomel, "Beresin kamarmu!" Itu berarti aku harus menyusun apa-apa yang ada di kamar pada tempat yang telah disepakati oleh universe dalam kehidupanku. Menjadi rapi memang sangat indah dipandang. Meninggalkan kesan nyaman. Toh alam ini pun rapi dengan segala kerumitannya. Tersadar ketika Dan Brown bercerita akan Golden Ratio dalam Da Vinci Code itu memang aduhai sekali Sang Pencipta dunia dalam menyusun rapi segala hal yang dibuatnya.

Maka, kini aku sepertinya harus merekonstruksi pikiranku bahwa manusia kreatif itu adalah mereka yang tidak tersusun. Damn fuck lah itu teori (atau gosip) yang bilang adalah mereka yang jenius itu acak-acakan seperti rambut dan kumis Einstein. Mungkin memang ada manusia-manusia yang kamarnya acak-acakan dan sukses. Mungkin. Tapi ketika aku pernah dengar Pak Ustad ceramah bahwa Allah suka yang indah berarti kerapihan adalah mutlak adanya. Karena sungguh aku tak menemukan keindahan dalam keacak-adutan. Ditambah lagi, karena aku sedikit ingin akademis, aku mencari referensi bacaan yang membuktikan bahwa kerapihan adalah salah satu modal menuju sukses. Kutemukan Rando Kim dalam Amor Fati bilang bahwa salah satu kunci sukses adalah: rapikan sepatumu.

Oleh Anugrah dalam Opini | 04 February 2018

Nafsu

Sesuatu yang berlebihan tentulah tidak baik. Segalanya akan berbalik menuju arah berlawanan dari yang diinginkan. Apalagi nafsu. Manusia punya nafsu. Dan aku baru benar-benar mengerti kenapa itu harus dikontrol dengan baik. Dan, itu tidak mudah. Nafsu selalu memberikan kebahagiaan dengan cepat. Dopamine rush. Setahuku, kebahagiaan yang diraih oleh nafsu semata akan cepat pula hilangya. Mabuk minuman dan masturbasi, misalnya.

Sesuatu yang kekal melulu melibatkan perjuangan. Syarat peluh dan derita. Kebahagiaan yang hakiki. Yang aku yakin itu bukan harta. Surga. Konsep jalan menuju surga di agama apapun dibuat tidak mudah. Nafsu adalah salah satu musuh yang harus ditaklukan. Dalam Islam, ada shaum. Pengebirian hawa nafsu. Penghancuran ego-ego bajingan yang tak terkendali.

Terkadang, aku ingin punya saklar yang terhubung dengan kabel-kabel nafsuku. Biar aku bisa dengan mudah mematikan dan menghidupkannya. Semauku. Tentu saja itu gak akan pernah terjadi. Instan bukanlah jalan menuju kebahagiaan. Percayalah, indomie itu rasanya gitu-gitu aja kan?

Oleh Anugrah dalam Opini | 25 January 2018

Waktu

Waktu. Benda mistis nan gaib. Katanya kita kehilangan waktu detik demi detik. Milidetik demi milidetik. Fuck!

Aku terlalu lama main game Resident Evil 6. Tersadar bahwa waktuku terbuang sia-sia karena mati terus ketika melawan Ustanak sang monster brengsek yang punya megabor di tangannya. Kalau ternyata aku berhasil melawan si Ustanak tadi, yakinlah aku tidak akan berhenti bermain. Oh no. Alhamdulillah aku tersadar bahwa si website butut ini harus segera diupgrade. Biar keren nan seksi. Eksklusif nan eksotis.

Proses tak akan mengkhianati hasil. Begitu katanya. Semoga saja prosesku ini yang seringkali bertemu dengan error-error bedebah, tidak membuatku berhenti. Karena aku yakin bahwa mengkhatamkan website ini lebih mulia daripada membuat khatam Resident Evil 6.

Oleh Anugrah dalam Cerita | 22 January 2018

Posisi

Posisi menentukan sudut pandang. Tentu saja. Hanya skeptis yang tidak setuju dengan itu. Masalahnya ada pada bagaimana menyikapi pandangan itu. Sudut yang telah diambil oleh keputusan-keputusan dalam hidup.

Sudah semestinya bersikap bijak ketika berhadapan dengan sudut pandang. Bijak yang bertumpu pada nilai-nilai yang telah disepakati. Kalaupun tidak mau mengikuti nilai-nilai itu, tinggal terima konsekuensinya. Cukup mudah. Karena, sejatinya, nilai atau norma yang ada itu tidak mengikat. Beda halnya dengan hukum yang berlaku di suatu tempat. Bersifat mengikat, memang, namun lagi-lagi itu adalah pilihan. Mau pasrah diikat atau berontak untuk lepas dari ikatan itu. Lagi-lagi, siaplah untuk terima konsekuensinya. Mudah. Beropini memang mudah.

Aku pernah melihat dari atas, pernah juga dari bawah. Mengintimidasi dan terintimidasi. Jumawa dan dengki. Berandai-andai pun pernah. Bagaimana kalau aku ada di posisi itu? Bagaimana kalau di posisi ini? Aku pernah begini jika di posisi ini. Begitu di posisi itu. Lumrah.

Aku berkesimpulan untuk mencoba menikmati saja sudut pandang yang sedang dipakai, karena itu lebih baik daripada tak bisa melihat dari manapun. Lebih baik. Sungguh.

Oleh Anugrah dalam Opini | 13 January 2018

Menuju Puncak

Circa 2000 awal frase ini jadi norak karena ajang pencarian bakat, aku mulai mengerti kenapa orang-orang kepingin menuju puncak. Ada suatu kepuasan. Mendobrak batas-batas diri. Merengkuh ego dalam balutan darah-darah aroma syuhada.

Harapan.

Adalah biang keladi. Membuat peluh-peluh bercucur. Kurang tidur dan makan. Asap-asap mengepul dari ubun-ubun. Membuat sebagian tidak bahagia, kecewa, iri, dengki. Ah brengsek.

Sementara, ketika mencoba untuk menikmati yang sedang dijalani, ada rasa kurang. Iya, manusia selalu kurang. Terciri dari banyaknya marketing leasing yang berdiri di pengkolan. Menyicil sampai ke harga diri.

Aku rasa memang seharusnya bersyukur. Dengan menyadari potensi-potensi yang telah diberikan Sang Maha Pemberi Potensi. Lalu, memanfaatkanya sambil memposisikan diri sebagai khalifah. Karena memang itu adalah amanah, maka harus total dimanfaatkan.

Keharmonisan bagi universe

Oleh Anugrah dalam Opini | 11 January 2018

satu menit

Aku hanya butuh satu menit untuk menyelesaikan semuanya. Satu menit setiap harinya. Satu menit saja. Ayolah. Aku butuh satu menit. Banyak teori yang kubaca. Banyak pula yang sudah kuimplementasikan. Cuma ini saja untuk terakhir kali aku mencoba. Teori yang ini. Yang cuma satu menit. Satu menit.

Satu!

Satu pasti jauh lebih sedikit dari seribu empat ratus empat puluh. Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Oleh Anugrah dalam Cerita | 10 January 2018

Pecah

Malam ini aku mencoba memecah isi-isi kepalaku. Menjadi paragraf-paragraf. Karena pecah berarti memulai kembali. Anggap saja teori Big Bang yang terkenal itu benar. Bahwa kekacauan adalah awal dari keindahan. Galaksi-galaksi. Universe

Beberapa kali aku terpikir mati. Patah hati kemarin bikin aku ingin mati. Tapi ternyata mati karena patah hati adalah hal yang engga keren. Aku belum pernah dengar orang bilang "wah dia keren, bunuh diri patah hati!". I know, man! Shit that Cloud Atlas! Bahwa bunuh diri butuh keberanian. Yes! Tes golongan darah saja sudah bikin aku tegang gak karuan.

Mati itu pasti. Tubuh terpecah dalam tanah, dimakan cacing. Atau terbang bersama angin setelah dijilat panas-panas api. Atau tergolek begitu saja di medan pertempuran dan membusuk bersama zirahnya. Energi dari jasad fana akan kekal dalam mereka yang hidup. Manunggal dengan alam. Sedangkan yang baka menuju hidup baru. Kekal. Ke tempat yang dijanjikan.

Oleh Anugrah dalam Opini | 05 January 2018

Alpha

Ini adalah alpha yang terhubung ke alpha lainnya melalui titik-titik omega. Banyak yang harus kubenahi. Banyak sekali. Ini terlalu sederhana untuk menjadi masterpiece. Yakinlah aku bukan Da Vinci si jenius desain. Namun, apa yang tidak mungkin jika rahmat Tuhan dihadirkan? Karena rahmat berarti keselamatan bagi seluruh jagat. Jangan berhenti! Karena hakikatnya semua yang lahir tidak pernah berhenti. Hanya istirahat.

Oleh Anugrah dalam Cerita | 05 January 2018